Sabtu, 27 Februari 2010

Permainan Kotor : Grand Design Dibalik Isu Century

Skenario Politik di Balik Isu Century
Zaenal A. Budiyono - Mimbar Politik



Isu bailout Bank Century yang awalnya hanyalah kasus perbankan “biasa”, kini sudah mengarah menjadi isu politik. Apalagi setelah disinyalir ada motif penumbangan kekuasaan di balik kasus ini. Awalnya isu ini mencuat setelah muncul dugaan pembekakan dana talangan (bail out) yang disuntikkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar Rp 6,7 trilun. Sementara itu, jumlah dana talangan yang disetujui oleh DPR hanyalah sebesar Rp. 1,3 trilyun. Selisih dari angka tersebut ditengarai oleh banyak pihak sebagai praktik penyimpangan di dalam proses penyelamatan Bank Century. Dalam perkembangannya, bola panas Century merembet hingga ke Sri Mulyani (Menkeu) dan Boediono, Wapres yang sebelumnya Gubernur BI. Keduanya dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus ini. Sehingga “publik” yang diwakili media merasa berhak menuntut mereka untuk mundur secepatnya. Hanya saja, ada sesuatu yang tidak normal terkait kasus ini, dimana hampir semua media kini “satu suara”, mengarah pada penekanan terhadap Presiden SBY. Dalam iklim demokrasi, kondisi semacam ini tampaknya kurang sehat, karena seharusnya media berada di tengah, menjadi penyeimbang.

Di sisi lain publik membutuhkan lebih dari sekedar politisasi, melainkan sebuah upaya pencarian kebenaran dan keadilan setuntas-tuntasnya. Presiden dalam pidatonya merespon rekomendasi Tim Delapan belum lama ini menegaskan bahwa seeking for justice harusnya menjadi agenda utama dibandingkan dengan politisasi. Oleh karenanya isu Century harus diletakkan dalam konteks yang sesungguhnya, baik momen maupun waktu. Pada November 2008, terjadi krisis ekonomi global yang melanda hampir seluruh dunia. Memori kelam krisis moneter 1997 yang berujung krisis multidimensi seakan menunggu di depan mata. Demi menghindari terjadinya “bencana kedua”, pemerintah dan BI memutuskan mengambil kebijakan bailout Century. Tujuannya tak lain agar krisis dapat dihindari, sehingga rush tidak terjadi dan perbankan tetap aman. Dengan stabilnya perbankan nasional, maka ini akan menjamin penyelenggaran ekonomi dan menjamin rasa aman masyarakat. Bayangkan jika saat itu Century tiba-tiba ditutup, maka keresahan sosial akan terjadi. Kepanikan kolektif selanjutnya merembet menjadi aksi anarkis yang sulit dikendalikan. Faktanya, itu semua tidak terjadi. Pemerintah berhasil mengendalikan krisis global dan bobroknya Century dengan baik. Masyarakat pun hampir tidak terpengaruh oleh terganggunya Century.

Nafsu Politik

Ironisnya, media tak banyak memberi porsi terhadap “skema penyelamatan” yang sukses ini, tetapi justru terjebak pada “siapa aktor yang bermain”. Sah-sah saja media melakukan investigasi untuk mengusut kasus ini. Namun demikian, mereka juga tak boleh melepaskan diri dari konteks kebijakan saat itu, termasuk pengelolaan krisis yang sukses dilakukan. Padahal, sebagaimana kita tahu, dana LPS bukanlah “uang rakyat” yang ada di APBN. Melainkan semacam dana arisan antar bank, yang mengelola uang dari bank-bank. Uang itu digunakan, salah satunya jika ada bank yang sakit dan membuhtuhkan injeksi (bailout). Sebagaimana dikatakan Eko B Supriyanto, Direktur Biro Riret InfoBank, langkah penyelamatan yang dilakukan LPS terhadap Ban Century merupakan tindakan yang tepat. Sebab, jika menunggu akuisisi dengan pihak lain, dikhawatirkan akan memakan waktu yang lama sehingga akan menyulitkan Bank Century sendiri. Dengan demikian, tuduhan sejumlah pihak kepada Boediono dan Sri Mulyani yang dianggap melakukan pelanggaran serius layak diperdebatkan. Tak ada fakta-fakta yang menguatkan asumsi ini. Kedua pejabat itu justru telah melakukan upaya penyelamatan yang relatif sukses sehingga tak berdampak pada sektor lainnya.

Mengenai adanya kemungkinan pelanggaran dalam aliran Rp 6,7 triliun dari LPS, itulah yang harus terus diusut. Presiden SBY sendiri memerintahkan agar siapapun yang terlibat dalam penyimpangan aliran dana ini harus segera dihukum. Pihak kepolisian sendiri menyatakan, mereka telah berhasil memblokir aset Robert Tantular di luar negeri yang jumlahnya diperkirakan mencapai Rp. 11 triliun. Dana ini nantinya akan digunakan untuk membayar dana investor Antaboga Delta Sekuritas. Persoalan investor Antaboga Delta Sekuritas Indonesia ini harus dituntaskan karena merupakan tindakan kriminal. Pasalnya, modus Artaboga tak lain adalah praktek penipuan secara kasar yang dilakukan Robert Tantular, mantan pemilik sebagian besar saham Bank Century, melalui perusahaan sekuritasnya, Antaboga.

Kasus nasabah Antaboga itu statusnya tidak bisa diselesaikan lewat "bank settlement" di Bank Century, melainkan harus melalui mekanisme lain. Jadi, penyelesaian untuk investor Antaboga adalah dengan membekukan aset Robert Tantular di luar negeri dan itu sudah dilakukan, diidentifikasi, dibawa ke Indonesia, lalu dibayarkan kepada nasabah. Mereka tidak dapat meminta dananya ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) atau Bank Mutiara (nama Bank Century saat ini) karena LPS hanya akan menganti dana produk perbankan. Produk yang dijamin LPS hanya berupa tabungan, giro, dan deposito. Sementara itu, lanjutnya, produk yang dikeluarkan Antaboga Delta Sekuritas merupakan produk non bank (bukan produk bank). Jika LPS dipaksa untuk membayar dana investor Antaboga, maka LPS akan melanggar UU LPS. Dengan begitu, Bank Century (sekarang bernama Bank Mutiara) harus membayar dana masyarakat yang diinvestasikan ke Antaboga. Untuk itu, katanya, ke depan seharusnya investor lebih berhati-hati jika ingin menanamkan modalnya.

Di panggung politik, DPR kini sudah bulat menggolkan hak angket Century untuk mencari apa yang mereka sebut sebagai “akar permasalahan”. Terhadap hal ini, Presiden menyatakan agar semua pihak mendukung proses politik di DPR. Lebih jauh SBY mengharapkan agar Pansus nantinya dapat membuka misteri di balik Century. Beberapa poin penting yang harus dikejar DPR, pertama, sejauh mana proses pengambilan keputusan dan tindakan penyaluran dana penyertaan modal sementara kepada Bank Century yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu dinilai tepat atau proper? Kedua, apakah ada pihak-pihak tertentu dengan kepentingannya sendiri, dan bukan kepentingan negara, meminta atau mengarahkan pihak pengambil keputusan dalam hal ini Menkeu dengan jajarannya dan BI, yang memang keduanya memiliki kewenangan untuk itu? Ketiga, apakah penyertaan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang “bocor”, atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus, rumor, atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY. Ini merupakan fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan. Keempat, sejauh mana para pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana diproses secara hukum, termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal sementara dapat kembali ke negara?

Penumbangan Pemerintahan

Jika Pansus DPR nantinya konsisten mengerjakan empat hal di atas, maka besar harapan rakyat isu Century akan dapat dibongkar. Namun sejauh ini, sebagaimana dapat kita lihat, DPR terkesan lebih mementingkan politisasi isu Century dan mengabaikan substansi. Lebih dari itu, munculnya isu Century akhir-akhir ini menimbulkan kesan adanya upaya penjatuhan pemerintahan. Pasalnya, belum lama ini beredar “bocoran” pertemuan Darmawangsa di sejumlah milis dan groups di internet. Terlepas dari benar atau tidaknya bocoran tersebut, yang pasti isinya cukup mencengangkan. Dari data itu dikatakan bahwa pertemuan Darmawangsa dihadiri antara lain oleh Prabowo Subiyanto, Surya Paloh, Suryopratomo, Syafii Maarif, Din Syamsuddin, Jusuf Kalla, Yudhi Latief, Fajroel Rachman dan Ray Rangkuti. Pertemuan dimaksudkan untuk merancang suatu skenario pemakzulan atau bahkan penumbangan SBY. Isu korupsi dan pentingnya clean government menjadi “lagu bersama” yang dinyanyikan masing-masing kelompok. Mereka menyadari bahwa isu korupsi tidak akan menjangkau rakyat kecil, dan hanya menjadi konsumsi kelas menengah. Namun, berdasarkan pengalaman, jatuhnya Gus Dur, Estrada dan Thaksin—adalah buah dari pengemasan isu korupsi yang “tepat sasaran”. Kali ini mereka akan mencobanya pada SBY. Skenario pertama, melalui impeachment di MPR. Jika ini gagal—karena presiden dipilih langsung oleh rakyat—maka skenario kedua akan diambil, yaitu penjantuhan SBY dengan amuk massa.

Isu impeachment di atas sejatinya juga bukan hanya kali ini menerpa kepemimpinan SBY. Lima tahun pertama masa pemerintahannya lalu isu semacam ini juga banyak muncul. Hanya saja, masyarakat tak banyak merespon manuver para elit karena dianggap terlalu politis dan hanya mementingkan kekuasaan. Dengan kata lain, rakyat masih percaya pada SBY. Mereka juga membuat justifikasi konstitusional melalui sejumlah pasal UUD 1945. Sejauh ini, Pasal 7A Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang dijadikan sebagai landasan justifikasi upaya impeachment tersebut. Di sana dinyatakan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum, berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden.

Namun, sesederhana itukah masalah pemakzulan presiden? Di masa lalu, aksi-aksi esktraparlementer berupa penggalangan mosi tidak percaya dan demonstrasi massa memang terasa begitu mudah berujung pada pemakzulan presiden. Akan tetapi, satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak pihak adalah aksi ekstraparlemeter yang berujung pada pemakzulan presiden semacam itu sesungguhnya tidak bekerja sendirian, melainkan membutuhkan kehadiran struktur politik yang mendukung. Soekarno, Soeharto, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dapat dijatuhkan dari kursi kekuasaan karena adanya dukungan dari MPRS dan MPR selaku lembaga tertinggi negara yang memiliki kewenangan untuk memilih dan menjatuhkan presiden. Seiring dengan berkembangannya berbagai pemikiran dan keinginan untuk mengembangkan demokrasi di Indonesia, kewenangan untuk memilih dan menurunkan presiden pun dihilangkan sehingga tidak lagi melekat dalam diri MPR dewasa ini. Dengan kata lain MPR tak bisa menjatuhkan Presiden lagi—sebagaimana yang terjadi pada kasus Gus Dur.

Kita tunggu saja manuver pihak-pihak di balik isu Century ini. Benarkah mereka memperjuangkan kepentingan rakyat, atau sekedar mengincar kekuasaan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.***

MEMAKNAI MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Perilaku, Tutur Kata, dan Pemikran Rasulullah adalah Teladan


Presiden SBY saat menyampaikan sambutan Dzikir Nasional di Lapangan Monas, Jakata, Jumat (25/2) pagi. (foto: anung/presidensby.info)

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri Dzikir Akbar bersama puluhan ribu jamah di Lapangan Monas, Jakata, Jumat (25/2) pagi. Jamaah datang dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan sekitarnya. Dzikir yang diadakan oleh Majelis Rasulullah ini dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H. Pada kesempatan itu, Presiden mengajak seluruh umat muslim untuk mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW.

"Kita patut belajar dan meneladani sikap, perilaku, kepribadian dan kepemimpinan Rasulullah," ujar SBY dalam sambutannya. Rasulullah, lanjut SBY, merupakan tokoh yang membawa kemajuan besar pada masanya, dan memiliki perilaku, tutur kata dan
pemikiran yang patut diteladani. "Kita sungguh mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW, telah mengubah perjalanan sejarah pada bangsa dan negaranya, dari jaman kegelapan jahiliah menuju jaman keislaman," Presiden SBY menambahkan.

Presiden juga mengingatkan bahwa perjalanan Rasulullah dalam membawa perubahan yang lebih baik, menemui banyak kesulitan dan cobaan. "Namun dengan kesabaran beliau, dengan ketegaran beliau, dengan mengajak semua untuk menjalankan tugas, lurus pada jalan Allah SWT, ternyata sejarah membuktikan bahwa seberat apapun persoalan, tantangan dan ujian itu dapat di atasi dengan izin dan pertolongan Allah SWT," kata SBY.

Pada kesempatan itu, Presiden SBY mengajak semua untuk melihat kondisi Indonesia sekarang, yang walaupun terus menghadapi ujian dan tantangan, dengan melihat Rasulullah sebagai teladan, kita harus melihat ke masa depan. "Masa depan kita, insya Allah lebih baik dari sekarang ini, masa depan yang diridhoi Allah SWT," ujar Presiden, yang kemudian disambut dengan ucapan 'Amin' dari jamaah. Suasana tausiah sangat meriah. Sesekali terdengar isak jamaah ketika mengumandangkan takbir dan tahmid.

Tampak hadir, antara lain, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Menko Kesra Agung Laksono, dan Menteri Agama Suryadarma Ali. (arc)

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri Dzikir Akbar bersama puluhan ribu jamah di Lapangan Monas, Jakata, Jumat (25/2) pagi. Jamaah datang dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan sekitarnya. Dzikir yang diadakan oleh Majelis Rasulullah ini dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H. Pada kesempatan itu, Presiden mengajak seluruh umat muslim untuk mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW.

"Kita patut belajar dan meneladani sikap, perilaku, kepribadian dan kepemimpinan Rasulullah," ujar SBY dalam sambutannya. Rasulullah, lanjut SBY, merupakan tokoh yang membawa kemajuan besar pada masanya, dan memiliki perilaku, tutur kata dan
pemikiran yang patut diteladani. "Kita sungguh mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW, telah mengubah perjalanan sejarah pada bangsa dan negaranya, dari jaman kegelapan jahiliah menuju jaman keislaman," Presiden SBY menambahkan.

Presiden juga mengingatkan bahwa perjalanan Rasulullah dalam membawa perubahan yang lebih baik, menemui banyak kesulitan dan cobaan. "Namun dengan kesabaran beliau, dengan ketegaran beliau, dengan mengajak semua untuk menjalankan tugas, lurus pada jalan Allah SWT, ternyata sejarah membuktikan bahwa seberat apapun persoalan, tantangan dan ujian itu dapat di atasi dengan izin dan pertolongan Allah SWT," kata SBY.

Pada kesempatan itu, Presiden SBY mengajak semua untuk melihat kondisi Indonesia sekarang, yang walaupun terus menghadapi ujian dan tantangan, dengan melihat Rasulullah sebagai teladan, kita harus melihat ke masa depan. "Masa depan kita, insya Allah lebih baik dari sekarang ini, masa depan yang diridhoi Allah SWT," ujar Presiden, yang kemudian disambut dengan ucapan 'Amin' dari jamaah. Suasana tausiah sangat meriah. Sesekali terdengar isak jamaah ketika mengumandangkan takbir dan tahmid.

Tampak hadir, antara lain, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Menko Kesra Agung Laksono, dan Menteri Agama Suryadarma Ali. (arc)

SBY : Sebagai Kapala Negara Bertanggung Jawab

SBY: Presiden tidak Mungkin Setiap Hari Reaktif Menanggapi Isu

Jakarta: Presiden tidak mungkin setiap hari reaktif menanggapi isu, sudah ada juru bicara kepresidenan dan menteri-menteri terkait. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan hal itu terkait permintaan berbagai media massa yang meminta Presiden menanggapi pandangan fraksi-fraksi dalam sidang Pansus Bank Century.

"Kalau itu saya lakukan, pastilah yang terjadi gonjang-ganjing dan bisa saja saya tertarik ke situ untuk menanggapi isu harian --meskipun saya ikuti, meskipun saya berpikir, meskipun semua itu penting bagi saya dalam pengambilan keputusan, dalam penetapan kebijakan dan langkah tindak apapun di dalam memimpin pemerintahan dan negara ini.” kata Presiden SBY dalam pengantar Sidang Paripurna Kabinet, di Kantor Presiden, Kamis (25/2) siang.

SBY mengatakan, dalam waktu dekat akan membuat berpidato langsung kepada rakyat Indonesia mengenai kasus Bank Century ini. ”Saya Kepala Negara, tentu yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di negara ini di bidang pembangunan dan di bidang kehidupan yang lain. Oleh karena itu, saya akan menyampaikan statement dan pidato resmi saya,” SBY menambahkan.

Jika ada isu yang terus bergerak, Presiden mempersilakan Menko Polhukam dan jajaranya untuk memberikan respons. ”Ini demokrasi, setiap orang boleh menyampaikan statement, pandangan, dan pikirannya dengan tentu dilandasi niat dan tujuan yang baik,” ujar SBY. (dit)

Kamis, 26 November 2009

PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH

Ekonomi Daerah Harus Kita Bangun. Itulah Gunanya Otonomi Daerah" Ambon: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan untuk belajar dari krisis global yang telah terjadi. "Negara lain yang sadar ada kesalahan perekonomian dunia, dia melakukan perbaikan, akhirnya kalau ada apa-apa lagi, dia selamat," kata Presiden saat meresmikan sejumlah proyek pembangunan di Provinsi Maluku, di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), Tantu, Ambon, Rabu (25/11) siang.

Kita ingin Indonesia menjadi negara yang selamat kalau terjadi krisis global lagi. "Kita ingin menjadi negara yang menang dalam era globalisasi untuk membangun perekonomian kita di waktu yang akan datang," ujar Presiden SBY.

Menurut Presiden, krisis global terjadi karena pertumbuhan ekonomi tidak seimbang. Ada negara yang kegemarannya menjual produknya besar-besaran, dan di sisi lain ada negara yang membeli barang itu besar-besaran. Tidak seimbang. "Ada yang surplus, ada negara yang banyak utangnya. Justru negara yang maju, seperti AS, tidak seimbang produksi dengan konsumsi, supply dan demand. Boros. Itulah yang membikin krisis terjadi lagi di dunia sejak tahun lalu, dan sekarang masih dirasakan pengaruhnya," SBY menjelaskan.

Oleh karena itu, lanjut SBY, seluruh pemimpin dunia dalam forum G-20 sepakat bahwa pertumbuhan di masa depan haruslah pertumbuhan yang kuat, inklusif, adil, merata dan berkelanjutan. "Jangan rusak begitu saja. Kalau rusak, anak cucu kita menderita. Oleh karena itulah konsep pertumbuhan perekonomian dunia adalah pertumbuhan yang kuat, adil dan merata. Berkelanjutan, tidak merusak lingkungan kita," ujar Presiden.

Indonesia harus memperkuat ekonomi domestik. "Caranya, ekonomi daerah kita bangun, jangan hanya Jakarta. Itulah gunanya desentralisasi dan otonomi daerah. Investasi kita dorong ke daerah supaya masing-masing tumbuh. Kalau ekonomi masing-masing tumbuh, maka tidak harus mengandalkan perdagangan antarnegara. Kita bisa melakukan perdagangan antara daerah yang disebut dengan intra-state trade, perdagangan dalam negeri antarpulau, provinsi, dan daerah," Presiden SBY menandaskan. (mit)

GONG PERDAMAIAN


Presiden SBY, Rabu (25/11) pagi, meresmikan Monumen Gong Perdamaian Dunia di Taman Pelita Ambon, Maluku. Gong ini pertama kali dipukul oleh Presiden dan Wapres RI di Bali, 31 Desember 2002 silam. Setelah itu, gong diarak keliling dunia untuk menggemakan pesan persaudaraan dan perdamaian. Setelah singgah di 34 negara, akhirnya gong tersebut ditempatkan dalam monumen untuk memperingati puncak Hari Perdamaian Dunia 2009. (foto: anung/presidensby.info)

SELAMATKAN HUTAN KITA


Pa Menteri Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup. Program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II haruslah dapat menjawab tantangan dari lajunya kerusakan lingkungan dan hutan kita. Semoga amanah ini bisa dijalankan dengan baik, rakyat menunggu.

SELAMATKAN HUTAN TUGAS KITA BERSAMA


Jakarta, Indonesia - edisi berikutnya Guinness Book of World Records akan mencantumkan Indonesia sebagai negara dengan laju tercepat kehancuran hutan di planet ini. Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepak bola setiap jam. Ia telah kehilangan 72% dari hutan tua utuh besar (1) dan setengah dari yang tersisa terancam (2).
Guinness World Records, dianggap sebagai otoritas global pemecahan rekor prestasi, telah mengkonfirmasi untuk Greenpeace (3) yang malang ini akan menampilkan catatan dalam buku catatan tahun 2008 akan diterbitkan pada bulan September tahun ini. Ini akan membaca: "Dari 44 negara yang secara kolektif rekening untuk 90% dari hutan dunia, negara yang mengejar tertinggi di dunia laju deforestasi tahunan adalah Indonesia dengan 1,8 juta ha (4.447.896 hektar) per tahun antara 2000-2005 - laju dari 2 persen per tahun atau 51 km persegi (20 mil persegi) setiap hari. " (4)

"Ini adalah rasa malu nasional bagi Indonesia untuk memiliki perbedaan ini dalam buku catatan," kata Hapsoro, Greenpeace Asia Tenggara Kampanye Hutan. "Catatan ini tingkat kerusakan membuat Indonesia tidak hanya perusak hutan tercepat, tetapi juga di dunia nomor satu greenhousegas pencemar dari deforestasi." (5)

Para pemegang rekor diumumkan sebagai masyarakat internasional mempertimbangkan untuk mengurangi atau pencegahan deforestasi untuk mengurangi perubahan iklim di pertemuan Kelompok Kerja Ketiga dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang berlangsung di Bangkok. Sampai dengan 25% dari emisi gas rumah kaca berasal dari pembukaan hutan tropis. (6)

Hutan Indonesia mencakup lebih dari 120 juta hektar tetapi sektor kehutanan terkendala dengan kejahatan, korupsi dan penjarahan hutan, yang Pemerintah Indonesia gagal untuk mengontrol. Permintaan internasional kayu dan kertas, serta komoditas seperti kelapa sawit, yang mendorong kehancuran ini.

"Hanya Indonesia yang bisa melindungi hutannya dan orang-orang yang bergantung pada mereka, tetapi negara-negara seperti Uni Eropa, Cina, Jepang dan Amerika Utara harus memastikan bahwa mereka bukan lembaga kliring untuk produk-produk dari kerusakan hutan," kata Hapsoro.

Greenpeace menyerukan pemerintah Indonesia untuk membendung gelombang kerusakan hutan dan untuk mengurangi kontribusinya terhadap perubahan iklim dengan memberlakukan moratorium operasi penebangan kayu komersial di hutan hujan. Greenpeace juga menyerukan negara-negara untuk melarang impor produk-produk hutan yang berasal dari sumber yang ilegal atau merusak.

Kamis, 09 Juli 2009

PRESIDEN TERPILIH

Ucapan Selamat Dari Beberapa Pemimpin Negara

Bogor: Susilo Bambang Yudhoyono selaku Capres Periode 2009 - 2014, telah mendapat ucapan selamat dari beberapa pemimpin negara sahabat, meski hasil perolehan suara terbanyak masih berdasarkan quick count. Kepada wartawan di kediaman Puri Cikeas, Bogor, hari Kamis (9/7) malam, didampingi pasangannya, Boediono, SBY mengatakan, "Satu persatu telah menyampaikan selamat, bukan hanya kepada saya, tetapi kepada demokrasi kita, pemilu kita, yang oleh dunia dilihat sebagai pemilu yang baik, pemilu yang demokratis. Tentu saya senang kalau bangsa kita, negara kita mendapatkan pengakuan dan penghargaan seperti ini," kata SBY.


"Pertama-tama saya menerima telepon dari PM Malaysia Najib Tun Razak, Lalu Presiden Timor Leste Ramos Horta, dilanjutkan dengan PM Singapura Lee Hsieng Loong dan siang harinya telpon dari PM Australia Kevin Ruud, Presiden Korsel dan kemudian Presiden Filipina Arroyo dan baru saja tadi telepon menteri mentor Singapura Lee Kuan Yew, yang juga mendoakan semoga Indonesia terus tumbuh menjadi negara yang demokratis dan capaian ekonomi yang makin baik," kata SBY.


“Meskipun saya sampaikan kepada mereka bahwa ini baru quick count , masih menunggu hasil resmi dari KPU, tapi mereka mengatakan dengan metodologi quick count, polling, bisa dipercaya," ujar SBY. (win,osa)


DZIKIR AKBAR DAN DEKLARASI TIM SUKSES SBY - BOEDIONO





Jumat, 03 April 2009

BARACK OBAMA SERIUS DENGARKAN SBY


BARACK OBAMA PRESIDEN AS SERIUS MENYIMAK USULAN SBY

London-Dubai: “So far, so good,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan keterangan pers mengenai jalannya Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di London. Presiden menyampaikan ini di pesawat dalam penerbangan London-Jakarta (transit di Dubai), Kamis (2/4) malam waktu setempat atau Jumat (3/4) pagi WIB.Presiden SBY mengatakan gembira karena seluruh pemimpin negara G-20 memiliki semangat serta keinginan yang tinggi untuk mencapai suatu konsensus. “Semua berbicara secara terbuka meskipun sama-sama menyadari bahwa resesi ini memang buruk, tetapi optimisme masih terjaga. Semangat kita semua untuk bersama-sama mengatasi krisis ini juga tinggi," kata Presiden.




Komunike itu sendiri masih dimatangkan. Tapi hampir pasti, karena sudah digarap dan dipersiapkan dengan matang. Kemungkinan ada perubahan kecil. Presiden SBY menjelaskan, sesuai dengan etika, isi komunike akan disampaikan oleh tuan rumah, dalam hal ini PM Inggris Gordon Brown, pada akhir KTT G-20. Presiden mengungkapkan, bahwa ia melakukan 'intervensi' saat sesi Working Breakfast tadi pagi waktu setempat. Kepada seluruh anggota G-20, Presiden SBY mengutarakan dua pertanyaan kritis. Pertama, apakah KTT G-20 kali ini dapat menghasilkan sesuatu yang konkret untuk memulihkan kepercayaan, pertumbuhan, dan lapangan pekerjaan. Kedua, apakah KTT G-20 ini bisa mewadahi kepetingan negara-negara berkembang.Namun, Presiden SBY tetap optimis kedua tujuan tersebut dapat dicapai. “Dan akan dijalakan pada satu hingga dua tahun mendatang apa yang telah menjadi kesepakatan kita,” ujar SBY kepada wartawan yang menyertai kunjungan kerja selama empat hari di London. (mit)

Senin, 30 Maret 2009

SBY BENTUK TANGGAP DARURAT UNTUK SITU GINTUNG

Dalam tinjaunya ke lokasi tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung, SBY langsung memerintahkan kepada jajaran kabinetnya untuk melakukan upaya pertolongan dan segera membentuk Tanggap Darurat.
Sby didampingi JK wakil presiden dan menteri terkait, melakukan peninjauan ke Situ Gintung.

Kondisi jalan yang macet terpaksa SBY menggunakan Kendaraan PM menuju Lokasi Situ Gintung.







Rabu, 18 Maret 2009

MALU KEPADA RAKYAT

Dengan Bu Mega sendiri?


Meskipun sekarang saya belum bisa berkomunikasi secara baik dengan beliau,saya tidak pernah mengangap beliau adalah musuh abadi. Ini bukan lip service,tetapi tulus dari hati saya. Tahun ini Bu Mega tentu akan menjadi rival atau kompetitor saya yang relatif tangguh. Dan hampir pasti kompetisi akan sangat keras.Tapi, sekali lagi, tidak sepatutnya kami berdua harus bermusuhan sepanjang masa.Tidak arif. Malu kita kepada rakyat.

MEGA TENTANG BLT

Bu Mega, akhir-akhir ini mengkritik pedas kebijakan BLT sebagai “mendidik kita untuk menjadi bangsa pengemis”.




Apa tanggapan Pak SBY ? ; Tidak ada satupun kebijakan yang mendapatkan dukungan 100%. Selalu ada pro-kontranya.Ini terjadi di negara mana pun. Toh saya harus memilih di antara opsiyang tersedia, yang telah kita pikirkan masak-masak, untuk menjadi kebijakan.Alasannya jelas. BLT, atau cash transfer hanya diberikan kepada golonganmasyarakat yang sungguh mengalami beban hidup yang berat akibat kenaikanBBM ini. Inipun sementara sifatnya. Dewasa ini, ada bermacam-macam bentuk bantuanyang pemerintah berikan untuk meringankan beban keluarga miskin dansetengah miskin.




Tentang “mendidik sebagai bangsa pengemis”?Istilah itu menyakitkan. Saudara-saudara kita yang miskin itu tidak ada yang maumenjadi pengemis. Karena terpaksa, dan memang sungguh memerlukan, merekamenerima BLT itu. UUD 1945 mengamanatkan kepada negara untuk membantufakir miskin. Agama juga mewajibkan pemeluknya untuk membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan.



BLT ini juga diberikan di negara-negara maju,meskipun dengan istilah yang berbeda-beda, seperti di Jepang, Amerika Serikat,Meksiko, Iran dan negara-negara lain. Apa pemerintah di negara-negara itu mendidikbangsanya untuk menjadi bangsa pengemis? (Jurnas 2009)

Rabu, 11 Maret 2009

SBY DIMATA MASYARAKAT


Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan calon presiden terpopuler pada Pemilihan Umum 2009. SBY dipilih 46 persen responden, mengungguli Megawati Soekarnoputri yang dipilih 17 persen responden, Sri Sultan Hamengku Buwono X 4,7 persen, dan Wiranto 4,6 persen. Jusuf Kalla (JK) hanya didukung 1,9 persen.


Hal itu merupakan hasil survei bersama Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Kajian Politik Fisip Universitas Indonesia (Puskapol UI), dan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang diumumkan di Jakarta, Rabu (11/3).


Peneliti CSIS, Sunny Tanuwidjaja, mengatakan SBY terlihat sangat populer karena ia mampu membangun persepsi keberhasilan pemerintah terhadap publik. "Ketika seseorang memilih SBY, ia tidak lagi melihat apa yang ditawarkan oleh SBY, melainkan melihat apa yang telah dilakukan SBY," kata Sunny. Selain itu, pengeluaran biaya iklan yang sangat besar juga sangat membantu membangun popularitas dan elektabilitas SBY.


Survei menunjukkan peta dukungan calon presiden mengerucut ke SBY dan Megawati. "SBY masih unggul cukup jauh dari Megawati, sedangkan nama-nama lain termasuk Wiranto, Hidayat, dan JK belum memperoleh suara yang signifikan," katanya.
Pengamat politik LIPI, Syamsuddin Haris, mengatakan tingkat elektabilitas SBY masih relatif tinggi dibanding calon presiden lainnya. "Meskipun JK makin lincah melakukan menuver, tapi belum signifikan mendapat dukungan."

1998 - 2008


10 Tahun Terakhir yang Membanggakan
Dalam 10 tahun terakhir (1998-2008), pembangunan di Indonesia mengalami kemajuan signifikan. Pertumbuhan ekonomi, misalnya, pada tahun 1998 minus 13.1 persen. Pada SBY tampil sebagai Presiden, tahun 2004, pertumbuhan ekonomi naik pesat menjadi 5.1 persen. Dan tahun 2008 diproyeksikan sebesar 6,4 persen. Cadangan devisa yang semula 33.8 miliar dolar AS, pada tahun 2008 naik menjadi 69.1 persen.
Tingkat kemiskinan juga terus berkurang. Pada tahun 1998, angka kemiskinan mencapai 24.2 persen. Pada masa awal Presiden SBY, tingkat kemiskinan ini turun menjadi 16.7 persen. Dan pada 2008 tinggal 15.4 persen dari total penduduk Indonesia.
Utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dipangkas habis pada masa pemerintahan SBY. Tengok saja, pada tahun 1998, utang Indonesia kepada IMF sebesar 9.1 miliar dolar AS. Pada tahun 2006, dua tahun setelah memimpin Indonesia, Presiden SBY berhasil melunasi seluruh utang kita sebesar 7.8 miliar dolar AS.
Selengkapnya, lihat data-data laju pembangunan Indonesia 10 tahun terakhir berikut. Data-data ini berasal dari BPS.

Rabu, 24 Desember 2008

Pembangunan Infrastruktur, PNPM Mandiri, dan KUR untuk Mengatasi Pengangguran


Presiden SBY memimpin rapat kabinet terbatas yang, antara lain, memutuskan menurunkan harga premium dan solar, di Kantor Presiden, Minggu (14/12) sore. (foto: abror/presidensby.info)

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas di Kantor Presiden, Minggu (14/12) sore. Rapat Terbatas ini dilaksanakan guna membahas langkah-langkah yang cepat dan tepat untuk merespon krisis keuangan global.

Dijelaskan oleh Presiden SBY, bahwa inti dari permasalahan yang dihadapi setiap negara di dunia dalam resesi global ini adalah pertumbuhan ekonomi yang cenderung mengalami penurunan atau perlambatan. “Akibat pertumbuhan yang terganggu ini, tentu akan ada permasalahan pengangguran. Di sisi lain, ada juga pengaruh terhadap ekspor Indonesia ke negara-negara yang perekonomiannya mengalami resesi,” SBY menjelaskan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Presiden SBY, Wapres JK, dan menteri-menteri terkait mencari solusi terbaik dalam menghadapi resesi global.

Untuk mengatasi pengangguran, pemerintah akan melakukan pembangunan infrastruktur yang lebih besar lagi di tahun 2009. “Pembangunan infrastruktur akan dilakukan lebih massif lagi di tahun mendatang, baik itu pembangunan infrastruktur yang menggunakan dana APBN atau fiskal kita,” kata SBY.

Selain itu, pemerintah juga akan menggunakan program PNPM Mandiri senilai Rp 3 miliar yang dialokasikan ke kecamatan-kecamatan seluruh Indonesia. “Dengan harapan tercipta juga lapangan kerja saat dibangunnya infrastruktur perekonomian dengan program PNPM itu,” jelasnya.

Sementara itu, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari pemerintah, memberikan pinjaman modal kepada pengusaha mikro, kecil dan menengan serta koperasi. “KUR akan dilanjutkan dan dipesatkan di tahun mendatang, dengan harapan mereka bisa menyerap tenaga kerja,” tambah SBY. Pemerintah juga mendorong kegiatan pembangunan infrastruktur dan kegiatan usaha lainnya yang menggunakan dana atau pembiayaan di luar APBN. “Public-private partnership menjadi penting. Kita harapkan bisa dipercepat lagi tahun depan agar lebih banyak pembangunan,” ujar SBY.

Pemerintah juga akan berusaha untuk mengelola masalah inflasi dengan baik, sehingga tingkat inflasi pada tahun 2009 masih dapat terjaga di sekitar 6-7 persen. Hal ini dilakukan agar rakyat Indonesia dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Masih berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, di dalam rapat tersebut, Presiden SBY juga membahas mengenai kecukupan suplai beras, termasuk harga beras yang tepat dan terjangkau. “Tepat meningkatkan kesejahteraan petani, serta terjangkau bagi konsumen yang lain. Yang miskin kita bantu dengan Beras untuk Rakyat Miskin,” SBY menambahkan.

Presiden SBY dan seluruh peserta rapat juga membahas mengenai penetapan harga BBM yang baru akan berlaku pada 15 Desember 2008, pukul 00.00 waktu setempat.

Tampak hadir dalam Rapat Kabinet Terbatas, antara lain, Menko Polhukkam Widodo AS, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkeu Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani, Menneg ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menneg BUMN Sofjan Djalil, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Mentan Anton Apriyantono, Menteri PU Djoko Kirmanto, Seskab Sudi Silalahi, dan Menhub Jusman Syafii Djamal serta Juru Bicara Presiden Andi A. Mallarangeng.(mit)

Harga Premium Turun Lagi, Juga Solar

Jakarta: Setelah 1 Desember lalu menurunkan harga premium menjadi Rp 5.500 per liter, pemerintah kembali menurunkan harga premium sehingga menjadi Rp 5000 per liter. Minyak solar juga turun menjadi Rp 4.800 seliter dari semula Rp 5.500. Harga baru ini berlaku per 15 Desember pukul 00.00 waktu setempat.

Pelaksana tugas (Plt) Menko Perekonomian/Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan hal itu usai rapat kabinet terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyhono di Kantor Presiden, Minggu (14/12) sore. Hadir dalam rapat tersebut, antara lain, Menko Polhukkam Widodo AS, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Rajasa, Menneg ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Mentan Anton Apriyantono, Menteri PU Djoko Kirmanto, Seskab Sudi Silalahi dan Menhub Jusman Syafii Djamal serta Juru Bicara Presiden Andi A. Mallarangeng.

Sri Mulyani menjelaskan, penurunan harga dua jenis BBM ini dilakukan seiring dengan penurunan harga minyak dunia yang cukup tajam beberapa bulan terakhir.

Penurunan harga BBM ini diharapkan juga dapat menurunkan beban masyarakat dan biaya produksi dunia usaha. “Dengan demikian, daya beli masyarakat dapat dijaga atau bahkan meningkat, seiring dengan penurunan inflasi. Hal ini diharapkan dapat mengurangi dampak krisis ekonomi global terhadap perekonomian nasional,” kata Menkeu.

Kebijakan menurunkan premium dan solar ini, ujar Sri Mulyani, ada beberapa pertimbangan. Antara lain, mengingat pentingnya komoditas BBM di dalam kehidupan masyarakat dan perkonomian. Kemudian, perkembangan harga BBM di dunia internasional yang tidak pasti, masih berkemungkinan turun atau naik lagi, seiring dengan perkembangan krisis ekonomi global.

Karena itu, lanjut Sri Mulyani, pemerintah menetapkan harga premium dan solar akan terus dijaga. Untuk premium, kalau pun naik lagi seiring perkembangan internasional, tidak akan melebihi harga awal sebelum penurunan, yaitu Rp. 6.000 per liter. Sedangkan solar tidak akan melebihi Rp 5.500 per liter. “Dengan demikian, masyarakat dan dunia usaha akan tetap terlindungi dari kemungkinan harga BBM yang melonjak tinggi dibandingkan kondisi saat ini,” Sri Mulyani menjelaskan. (mit)

Sabtu, 22 November 2008

KOMITMEN SBY UNTUK RAKYAT MISKIN

Untuk Kurangi Kemiskinan, Pemerintah Siapkan Beberapa Progra

Jakarta: Persoalan kemiskinan tidak hanya dialami bangsa Indonesia, namun juga dialami negara-negara berkembang lainnya. Semua negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, berjuang dengan gigih memerangi kemiskinan. Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rekaman keterangan persnya di Istana Merdeka, hari Rabu (30/4) sore.
"Upaya untuk mengurangi kemiskinan, pemerintah telah menyiapkan berbagai macam program. "Di waktu lalu ada 55 proyek yang dikerjakan 19 departemen. Setelah dicek dan dievaluasi, maka semua program tersebut dikonsolidasi ke dalam tiga program," kata Presiden SBY."Pertama adalah perlindungan dan bantuan sosial. Program ini termasuk membeli beras untuk rakyat miskin, pengobatan gratis, Biaya Operasional Sekolah (BOS), dan bantuan-bantuan sejenis untuk rakyat miskin. Yang kedua adalah PNPM Mandiri atau Program Nasional Pembangunan Masyarakat Mandiri. Kita menyadari bahwa masyarakat komunitas lokal kita makin kreatif dan bisa diberdayakan. Dana yang dikeluarkan pemerintah tidak sedikit, untuk tahun 2008 dikeluarkan dana lebih kurang 2 sampai 3 miliar per kecamatan, sementara tahun depan ditargetnya 3 miliar per kecamatan," SBY menerangkan."Bila program pertama diibaratkan seperti memberi ikan, karena masyarakat seperti itu harus cepat diberi bantuan, maka program yang kedua bisa diibaratkan pemerintah memberi kail," lanjutnya.
Program ketiga adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di Indonesia ada jutaan usaha makro, usaha perseorangan, usaha kecil, dan usaha menengah. Di waktu lalu mereka kesulitan mendapatkan pinjaman atau modal, dengan program ini para pengusaha mikro dan menengah dapat mendapatkan pinjaman yang dipermudah karena pemerintah yang menjamin," tambah SBY.
Bila program tersebut dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, Presiden SBY yakin ekonomi akan tumbuh, kemiskinan dapat dikurangi, pendapatan orang perseorang naik, dan kesejahteraan masyarakat juga naik. "Saya berharap kepada semua pemimpin daerah, gubernur, bupati, dan walikota dapat turun ke lapangan untuk dengan kepemimpinannya mensukseskan program ini," kata Presiden SBY kepada masyarakat Indonesia yang disiarkan di seluruh televisi Indonesia. (osa)

PERTANIAN DAPAT SUBSIDI 33 T


Subsidi Pertanian Rp 33 T

"Tahun 2005 subsidi pertanian Rp. 9 trilyun, tahun ini Rp. 29 trilyun, tahun depan insya Allah DPR- RI dan pemerintah sudah setuju angkanya Rp.33 trilyun," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara panen padi hibrida di Situ Mekar, Sukabumi, Jawa Barat.Presiden mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan bekerja keras sehingga pada tahun ini Indonesia bisa swasembada beras dan jagung.”Mari kita juga berterima kasih untuk semua pihak di seluruh Indonesia, para petani, penyuluh, pimpinan daerah yang bekerja keras untuk meningkatkan produksi pangan," tambah Presiden sambil menjelaskan bahwa Menteri Pertanian Anton Apriyantono tidak ikut dalam panen padi di Sukabumi ini karena mendapat tugas kenegaraan ke Australia.


Presiden memaparkan hasil yang dicapai selama 4 tahun memimpin, berdasarkan data dari menteri dan pejabat terkait: "Tahun 2005 produksi beras kita seluruh Indonesia 51 juta ton gabah kering giling. Tahun 2006 naik 54 juta ton atau naik, 0,56 persen. Tahun 2007 naik lagi menjadi 57 juta ton. Ini kenaikan tertinggi dalam waktu dua belas tahun," kata Presiden disambut aplaus panjang ribuan petani dan undangan yang hadir.
Sedangkan pada tahun 2008 ini, lanjut Presiden SBY, insya Allah menurut perhitungan BPS, produksi padi kita akan mencapai lebih dari 60 juta ton dengan kenaikan 5,46 persen sejarah mencatat rekor baru. "Mari kita pertahankan," kata Presiden
.

Kalau kita tidak mengimpor beras lanjutnya, dan mudah-mudahan kita bertahan, pertama kita tidak kehilangan devisa karena membeli itu dalam bentuk dollar. Karena itu menyedot devisa kita. Kedua, kalau harga di dunia gonjang-ganjing, membelinya pun mahal sekali. Uang kita tersedot membeli yang mahal itu. Kalau kita tidak mengimpor, perdagangan dalam negeri lebih bagus, lebih baik untuk pertaniannya, utamanya beras dan kehormatan kita sebagai bangsa meningkat. ( SINAR TANI. SMS ke : 0815 8441 4991)